Tag : Perjalanan
Pilih Bulan dan Tahun
Semua Postingan

Pulang Ke Desa
Setelah beberapa waktu, jarang sekali pulang ke kampung halaman. Dengan berbagai kesibukan yang mungkin teman teman sama sama merasakan. Pergi dikampung halaman, ada yang bekerja, melanjutkan sekolah, bahkan berpindah rumah karena faktor ekonomi yang tidak memungkinkan.Semua itu dilakukan, karena dewasa menutut kita untuk seperti ini dan seperti itu, terkadang hal itu muncul dari orang lain. Ketika melihat sekeliling kita sudah bertumbuh, hendaknya kitapun bertumbuh. Mengambil peran, mau jadi apa kelak, mau jalan mana yang akan dipilih dan apa yang akan dipetik ketika kita menanam dari sekarang.Yang aku rasakan, saat ini bagaimana memberi jeda dan berhenti sejenak. Memberikan ketenangan diri tak usah selalu berlari. Ada kalanya kita istirahat, jangan jangan yang kita kerjakan saat ini. Ada yang perlu diperbaiki....Ternyata Berhenti Bukan Berarti Rugi
Melambatkan Diri
Sudah satu minggu lebih membiasakan berangkat bekerja jalan kaki. Jarak tempuh sekitar 1,9 km untuk bisa berangakat ke tempat kerja. Adakalanya perasaan senang dan malas saling mendahului. Niatan seperti ini berawal dari membaca tulisan di kompas. Bahwa jalan kaki baik untuk kesahatan badan. Ditambah hidup merantau perlu menghemat uang, belum dikarunai momongan motor dan fakto enggan memberatkan orang lain. Semisal harus minjam motor ataupun sukarela ada yang menawarinya pinjaman. Selagi masih mempunyai apa yang bisa dipakai. Ntah bentuknya barang ataupun anggota badan. Seperti kaki-kaki yang masih bisa untuk melangkah merdeka. Ya sudahlah, akhirnya saya putuskan menjadi sebuah prinsip dalam diri. Meminta bantuan dan menerima bantuan orang lain sah-sah saja. Tetapi perlu lebih dulu melihat dan merasakan sendiri. Apakah masih mampu raga dan jiwa ini. Semisal mampu melakukan sendiri terlebih dulu. Dalam makna lebih dalam berdikari. Kegiatan jalan pagi ada keuntungannya. Selain baik untuk lesahatn. Kita lebih jeli dalam melihat dan merasakan keadaan. Apa lagi di zaman yang begitu cepat sekarang ini. Adakalanya cara menikmati hidup dengan berjalan pagi. Dengan berjalan pagi, saya bisa melihat hamparan sawah yang luas, kondisi lingkungan, pengendara jalanan yang saling cepat, dan aktivitas pagi lainnya. Tak sungkan-sungkan saya segera mengabadikan momen ini. Selain sebagai pengingat, bisa juga sebagai bahan untuk bercerita. Seperti foto perempuan yang sedang dibonceng suaminya. Berlatar botol bekas berbentuk cinta. Sebuah botol bekas yang mulai lepas satu persatu. Apakah cinta orang tua seperti itu. Setelah mempunyai anak cintanya mulai berkurang. Karna sudah meraskan dan cintanya dibagikan ke anak-anknya. Dalam hal ini, keributan keluraga akan terjadi. Segala macam permasalahan muncul ssbagai pemicu keributan. Seperti haru belanja ke pasar, masalah kegiatan mencuci baju, membersihkan rumah, belum lagi masalah ekonomi. Lebih jelasnya bisa ditanyakan ke orang tua yang suka ribut terus. Heeee....
Tentang Maoni Musim Semi
Maoni bulan JuliJatuh ditepi waktuSaatnya musim semiAku sangat rindu Menari-nari di udaraBerjatuhan kesana kemariSatu persatu akan jatuhSudah semestinyaSudah waktunya Kepergian akan terjadiSeperti biji maoniBegitu pahit Dan sakit Semoga kita bisa bertemu kembaliWalupun belum tahuKapan menuju titik temu
Agustus Menanti Hujan
Pagi ini, bersyukur sekali rasanya bisa melihat langit. Memandang langit diantara tiang listrik. Langit yang begitu cerah dan biru. Lampu jalan otomatis yang masih menyala dan akan mati ketika matahari datang. Suasana pagi semakin sahdu. Kicau burung yang sedang keluar dari sangkarnya. Menunjukan bahwa kehidupan akan segerah dimulai. Akhir-akhir ini langit sering diperbincangkan. Setelah sekian lama hanya senja yang selalu dirindukan. Langit yang tampaknya biru berubah menjadi kelabu. Sebagian daerah indonesia sedang mengalami hal seperti ini. Ntah hanya kabar saja atau isu polusi yang tak kunjung ada solusi. Berjalan secara terus menerus karena belum terjadi secara serius. Kesadaran akan muncul ketika semua saling merasakan akibat semua itu. Terlalu dalam bagiku untuk berpikir seperti ini kepada langit pagi. Langit akan selalu di atas. Sedangkan manusia tempatnya di bawah. Walaupun bisa ke atas itupun hanya sementara. Tetapi ketika di bawah, manusia bisa menjaga kehidupan. Kita akan mendatakan sebuah hadiah yang tak terduga dari langit. Seperti langit mengirimkan hujan untuk tanah gersang. Memberi butiran pelangi di kalah kesedihan datang. Kepada langit, semoga hujan datang. Kemarau Agustus sudah terlalu panjang. Selalu ada separuh kebahagian dikala hujan datang. Separuh yang tidak bahagia adalah orang yang tak bersyukur. Bukankah hujan adalah sekumpulan doa-doa yang mudah terkabul. Mari langitkan segala doa dikala hujan datang.