Kategori : Non Fiksi
Pilih Bulan dan Tahun
Semua Postingan

Melihat Desa dari Dekat

Hidup di desa untuk saat ini masih belum menjanjikan, masih dipandang sebelah mata oleh beberapa orang. Di sisi lain kehidupan desa begitu sepi. Hal ini bisa dirasakan ketika perayaan hari raya telah berakhir. Apalagi pekerjaan di desa banyak dibidang pertanian. Petani lebih dominasi oleh kaum tua. Usia para petani semakin menua tetapi belum ada benih baru sebagai gantinya.Orang tua mulai merasakan ketika meminta batuan orang lain untuk membantu pekerjaan di sawah begitu sulit. Harga mengelola sawah tak sebanding dengan hasil panen yang didapat. Pemuda di desa tak jarang pergi ke kota untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Pembelajaran pertanian sejak keci jarang sekali diajarkan di bangku sekolahan. Padahal pertanian lebih dekat dengan kehidupan anak di desa. Orang tua yang tidak ingin melihat anaknya merasakan hal yang sama. Lebih baik menyekolahkan anaknya agar kelak bisa hidup lebih baik. Tak jarang ketika orang tua sudah tak mampu lagi bertani. Walaupun masih punya anak sebagi penerusnya, area sawah yang luas diserahkan ke orang lain untuk ditanam. Bahkan petani asli punya sawah sendiri hanya segelintir orang. Petani mulai menggarap sawah orang lain. Hasil pertanian dibagi dua antara petani dengan pemilik tanah.

Kepulangan pemuda dari kota sudah ditunggu-tunggu sekian lama. Sekiranya ilmu, tenaga,dan pengalaman pemuda perantau mampu diterapkan di desa. Pemuda desa seharusnya sadar, pentingnya belajar dan membantu orang tua di sawah. Untuk membuktikan bahwa hidup di desa tak lagi dipandang sebelah mata. Bahkan menjadi sebuah pemikirin baru bahwa untuk mengejar masa depan tak harus ke ibu kota. Tetapi bisa pergi dari desa ke desa lainnya. Minimba ilmu dari desa lain, sekiranya bisa diterapkan di desanya sendiri. Hal ini dapat dijadikan generasi selanjutnya untuk mengelola pertanian ataupun menghidupkan desa kembali, agar desa tak lagi sepi ataupun mati suri.

Hadiah Perjalanan
Menjaga Rimba Terakhir

Berawal dari rasa penasaran mengenai sebuah buku yang di post salah satu akun. Kemudian, Saya disuruh menghubungi @kki warsi saja. Sebuah akun Lembaga Konservasi Indonesia Warung Informasi Konservasi (KKI Warsi ). Menanyakan perihal bagaimana cara mendapatkan buku yang saya inginkan. Setelah beberapa komunikasi, saling melempar pertanyaan dan balasan. Akhirnya saya bisa mendapatkan buku ini. Senangnya bukan main.

Sebuah buku yang menceritakan perjalanan Warsi dalam menjaga hutan dengan asas kemasyarakatan. Tidak hanya pohon saja dijaga dan dilestraikan, begitupun makhluk hidup yang hidup di dalamnya. Seperti orang rimba yang tinggal di hutan.

Kita membayangkan, orang rimba adalah rombongan orang yang tinggal di hutan, hidupnya berpindah-pindah, berpakaian seadanya dan kehidupannya ketinggalan zaman. Kita memandang mereka itu "Aneh".

Memang ada beberapa itu benar, tetapi setelah membaca buku ini. Kita bisa melihat lebih dalam betapa istimewanya orang rimba. Bisa bertahan hidup di hutan. Kearifan pengetahuan, Orang rimba membaca dan menggali ilmu dari alam hutan perlu dipelajari. Seakan-akan alam adalah tempatnya sekolah.

Walaupun mereka ketinggalan dalam hal pendidikan seperti membaca, menulis dan hidup seperti laykanya manusia sekarang. Dalam buku ini, diceritakan kerap kali dibohongi ketika ada yang meminta sepucuk surat. Karena akses membaca yang masih rendah, alhasil mereka mendata tanganinnya dengan cap jempol saja. Orang-orang yang hanya memanfaatkan keadaan, kepengingannya sendiri tanpa memupedulikan kehidupan sesama manusia, Hanya mengharapkan lahan dan kayu.

Di sisi lain, istimewanya orang rimba yaitu sejak bayi lahir sudah diberi tanggung jawab menjaga dua pohon. Pertama, pohon kelahiran mewakili sosok dan nama si anak. Kedua, pohon sentubung, tempat menanam ari-ari bayi. Kalau zaman sekarang ada namanya pohon asuh.

Seperti seloka orang rimba, " Piado rimbo, Piado Bungo. Piado bungo, piado dewo." Tiada hutan, tiada bunga. Tiada bunga, tiada dewa. Sebuah seloka atau semacam peribahasa yang mengibaratkan hutan adalah dewa. Meyakini benar benar takut ketika merusak hutan. Apalagi sampai kehilangan?

Sebuah buku " Menjaga Rimba Terakhir" karya dari Ibu Mardiyah Chamim. Menjadi saksi kejadian yang sekarang terjadi. Penggusuran orang adat secara paksa, deforestasi dan perubahan iklim menjadi-jadi. Buku yang perlu dibaca dan menyelaminya lebih dalam lagi.